Mengapa Crowdfunding Penting bagi UMKM?

April 28, 2024

 

Fenomena Crowdfunding di era digital di Indonesia

Oleh Ivan Andeska Marpaung

Hadirnya teknologi seperti website, media sosial dan internet, dapat memudahkan segala aktivitas para penggunanya. Salah satu yang hadir saat ini adalah online fundraising, yaitu pendanaan secara online yang biasanya digunakan untuk para wirausaha yang sedang mencari pendanaan eksternal. Kegiatan pendanaan yang melibatkan website ini dapat disebut dengan crowdfunding.

Pendanaan crowdfunding berbeda dari pembiayaan tradisional usaha baru dalam dua cara penting. Pertama, pendanaan disediakan oleh kontribusi yang relatif kecil dari banyak individu selama batas waktu yang ditentukan (umumnya beberapa minggu). Kedua, donatur dapat melihat berapa banyak yang mendukung proyek tersebut sebelum mengambil keputusan, menunjukkan bahwa keputusan pendaan orang lain memiliki peranan penting dalam suatu keberhasilan proyek crowdfunded.

Dalam beberapa tahun terakhir, crowdfunding telah menjadi sumber pendanaan alternatif yang berharga bagi wirausahawan yang mencari pendanaan eksternal. Crowdfunding memungkinkan pengusaha untuk mengumpulkan dana melalui panggilan terbuka di internet. Karakteristik penting adalah adanya manfaat pribadi tambahan yang didanai oleh penyandang dana dengan berpartisipasi dalam mekanisme crowdfunding. Manfaat pribadi tambahan ini bervariasi dengan bentuk crowdfunding, mulai dari model berbasis ekuitas, skema bagi hasil, dan pinjaman hingga sumbangan langsung.

Ada banyak situs crowdfunding, mulai dari situs besar seperti Kickstarter, Indiegogo, dan Gofundme hingga situs web niche seperti Teespring (t-shirt crowdfunding), DonorChoose (pengumpulan dana amal), dan Patreon (penggalangan dana untuk pembuat konten online). Salah satu platform crowdfunding yang pertama dan terbesar (yang penyumbang dananya bersifat open dari berbagai negara) adalah Kickstarter. Salah satu campaign yang sukses adalah kampanye Pebble Kickstarter, dimana kampanye tersebut sering digunakan untuk menggambarkan kekuatan crowdfunding sebagai sumber pembiayaan bagi pengusaha yang tidak memiliki akses ke sumber lain. Crowdfunding memungkinkan para pendiri untuk mencari pendanaan dengan menarik kontribusi yang relatif kecil dari sejumlah besar orang yang menggunakan internet.

Namun, crowdfunding bukan hanya digunakan sebagai pendanaan modal, tetapi juga pendanaan sebagai salah satu solusi untuk mengurangi masalah sosial yang ada. Fenomena munculnya platform crowdfunding di Indonesia dimulai pada tahun 2012, dengan munculnya banyak platform yang dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mewujudkan serta membantu sejumlah proyek sosial. Platform-platform crowdfunding di Indonesia seperti kitabisa, wujudkan, ayopeduli, gandengtangan, dan masih banyak lagi merupakan beberapa contohnya. Salah satu pelopor crowdfunding terbesar di Indonesia adalah kitabisa.com, pada tahun 2018, sebanyak 1 juta orang terhubung untuk membantu proyek sosial sejumlah 500 milyar.

Kitabisa.com merupakan platform donasi yang mendukung proyek-proyek sosial yang telah ada sejak tahun 2013. Kitabisa juga memungkinkan proyek lain seperti kategori teknologi, kreativitas, dan bisnis. Situs crowdfunding ini selalu memverifikasi setiap proyek sebelum dipublikasikan. Kitabisa juga memiliki laporan keuangan serta status tentang proyek yang sedang didanai. Sebagai social entreprenurship, Kitabisa mengambil potongan lima persen dari proyek yang didanai.

Dalam website Kitabisa.com, pengguna media dapat membaca kisah orang-orang sebelum melakukan donasi, dimana hal tersebut juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keinginan orang lain untuk menyumbangkan dana. Media sosial, khususnya twitter juga kerap menjadi salah satu media yang menyebarkan kisah serta ajakan untuk berdonasi, namun situs crowdfunding yang digunakan untuk menggalang dana tetap menggunakan Kitabisa.com. untuk mendukung donasi melalui crowdfunding kitabisa.com, dibutuhkan story telling yang kuat sebagai salah satu bentuk kampanye yang mempersuasi orang lain untuk memberikan donasi. Karena, salah satu tantangan dari platform crowdfunding adalah kurangnya pemahaman di dalam organisasi tentang manfaat non-finansial. Crowdfunding terlalu sering dipandang murni sebagai alat penggalangan dana, bukan kombinasi penggalangan dana dan kampanye.