Kenapa Banyak Start-up Gagal? Ini 6 Alasannya

October 7, 2022

Pendirian perusahaan rintisan (start-up) tak selalu mulus, ada yang berhasil dan ada juga yang gagal. Di Indonesia sendiri, sudah banyak start-up yang berhasil menyandang status unicorn sebut saja yang berhasil Go-Jek, Bukalapak, dan Tokopedia. Tapi tentunya mereka yang berhasil jumlahnya tidak sebanyak yang gagal alias gulung tikar.

Tentunya kegagalan tersebut harus menjadi pelajaran bagi perusahaan start-up yang saat ini sudah berjalan maupun yang baru akan dijalankan. Untuk itu perusahaan start-up perlu memperhatikan enam hal ini agar perusahaan start up terhindar dari kegagalan.


1 Perencanaan yang tidak jelas

Selama ini, banyak yang mengira ide yang bagus sudah cukup bagi para pelaku usaha untuk membangun start-up.

Namun, hal itu salah besar. Tanpa rencana yang konkret, perusahaan akan berjalan tanpa arah pasti.

Membangun sebuah perusahaan start-up sama seperti membangun perusahaan konvensional, perlu disiapkan rencana bisnis yang matang seperti konsep, target pasar serta solusi atas kebutuhan pasar harus direncanakan secara matang.

Ingat, sukses atau tidaknya perusahaan rintisan bukan hanya sebatas ide-ide brilian saja.

2. Kesalahan menentukan harga pasar yang tepat

Banyak perusahaan start-up yang salah melakukan identifikasi pasar dengan baik seperti menetapkan harga produk terlalu tinggi atau terlalu rendah, salah mengkalkulasi pajak dan lainnya.

Jika perusahaan salah menentukan harga produksi, bisa jadi perusahaan merugi karena ternyata biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.

Maka dari itu, Anda harus pandai mengklasifikasikan semua biaya yang dikeluarkan perusahaan khususnya harga produk agar tidak salah dalam menentukan harga produksi.

3. Kurangnya pendapatan yang diperoleh sejak peluncuran perdana

Kesalahan lain yang juga kerap dilakukan oleh perusahaan start-up adalah kebiasaan untuk membakar uang dengan memberikan promo gratis, diskon besar-besaran dan penawaran lainnya. Strategi bakar uang ini mungkin tidak menjadi masalah besar bagi perusahaan start-up yang mendapatkan modal besar.

Apabila perusahaan start-up ingin berjalan stabil dan bertahan, tentunya dari awal sudah harus bisa memikirkan strategi monetisasi atau strategi untuk mendapatkan pemasukan.

Tidak harus melulu membakar uang, cobalah dengan menawarkan produk terbaik yang punya keunggulan tersendiri di mata konsumen. Tentunya dengan harga kompetitif.

4. Tidak paham kebutuhan pasar

Menurut laporan dari CBInsight yang dilansir dari Tirto.id, salah satu penyebab kegagalan perusahaan start up di Indonesia adalah ketidakmampuan mereka melayani atau menyediakan apa yang dibutuhkan oleh pasar.

Banyak perusahaan start-up di Indonesia yang hadir dengan ide-ide segar dan menarik tapi sebenarnya tidak memberikan manfaat yang signifikan alias belum dibutuhkan oleh pasar.

Sebagai contoh, mungkin perusahaan start-up meluncurkan produk yang terlalu modern atau melampaui zaman sehingga belum bisa diterima masyarakat. Kemudian masyarakat juga bisa tidak percaya dengan produk atau jasa yang ditawarkan karena terlalu muluk-muluk.

Dengan kata lain, perusahaan akan dianggap gagal meyakinkan calon konsumennya untuk membeli produknya. Untuk menghindari kesalahan ini terjadi, tentunya dibutuhkan kembali riset pasar yang lebih mendalam.

5. Gagal berkompetisi

Alasan selanjutnya kegagalan perusahaan start-up adalah tidak memperhatikan dan mengamati apa yang sedang dilakukan pesaing. Sangat banyak perusahaan start-up yang memiliki model bisnis yang mirip meskipun dikemas dalam konsep masing-masing yang sedikit berbeda, sebut saja e-commerce.

Untuk bisa bertahan dan terhindar dari kegagalan ini, perusahaan startup lagi-lagi perlu menawarkan produk yang punya nilai atau value lebih dibandingkan dengan pesaingnya.

Memberikan promosi besar-besaran hingga produk gratis mungkin bisa jadi solusi sesaat, tapi ingat kembali apakah mau terus-terusan seperti itu?.

Salah satu untuk membantu promosi suatu brand atau perusahaan dengan jasa press release guna meningkatkan branding atau image perusahaan kepada masyarakat luas atau calon customer.

6. Kurangnya pendanaan atau uang

Uang adalah hal yang memiliki batas dan perlu dialokasikan dengan bijaksana. Pertanyaan tentang bagaimana seharusnya Anda membelanjakan uang seringkali menjadi teka-teki, tidak tahu kemana uang itu telah digunakan dan habis begitu saja.

Menurut laporan CBInsight 29% perusahaan start-up gagal karena pemakaian uang yang tidak bijaksana.

Perusahaan start-up perlu menghitung berapa banyak dana yang dibutuhkan, berapa banyak jumlah untuk setiap kebutuhan, berapa banyak sisanya, dan sebagainya. Penting untuk mengetahui bagaimana memaksimalkan dana yang ada menjadi sebuah pencapaian dengan pengembalian yang tinggi.

Dengan demikian,  buatlah perencanaan keuangan dan memantau kondisi keuangan secara berkala yang dilengkapi dengan pencatatan yang rapi.

Sumber: